Pikiranku, Bukan Pikiranmu, Tapi Pikiranmu Adalah Pikiranku
Pepatah bilang, Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya, Tapi saya bilang semua hal yang terjadi didalam poros kehidupanmu adalah pikiranmu sendiri, Nyatanya Air yang ada diwadah A tidak akan berpindah ke wadah B kecuali dipindahkan atau dialirkan, Sama halnya dalam kehidupan, Kita tidak akan membayangkan atau tidak menginginkan sesuatu hal terjadi, Tapi karna Pikiranmu adalah Pikiranku, Maka hal itu menjadi sebuah kenyataan tanpa perkiraan.
Bukan berarti Pikiranmu adalah suatu yang ditakdirkan adalah sebuah ketidak adilan dalam kehidupanmu, Melainkan pikiranmu adalah sebuah takdir yang ditetapkan dan bisa dikendalikan sepenuhnya hanya oleh dirimu sendiri. Pikiranku, Bukan Pikiranmu, Tapi Pikiranmu Adalah Pikiranku gambaran dari buktinyata setiap apa yang kita pikirkan sudah pernah dipikirkan oleh orang lain, dan kemudian dipikirkan kembali olehmu dan oleh orang lain disekitarmu, Tapi itu semua adalah murni bahwa tidak ada pikiran yang benar-benar asli, Tapi buktinyata Pikiran kita hanya berpindah saja dari Kepala satu, ke kepala satu lainnya, Sehingga sebenarnya Pikiran kita Hanya satu, dan yang membedakannya adalah Perimeter Kehidupan dan Takdir dari Pikiranmu sendiri.
Makna Reflektif
Pikiran manusia sering terasa seperti sesuatu yang sepenuhnya milik pribadi. Kita merasa ide yang muncul di kepala adalah hasil dari diri kita sendiri. Namun jika ditelusuri lebih dalam, hampir tidak ada pikiran yang benar-benar lahir dari ruang kosong.
Setiap ide adalah hasil dari pertemuan antara pengalaman, pengamatan, percakapan, bacaan, dan hal-hal yang pernah kita dengar atau lihat. Pikiran manusia bekerja seperti jaringan yang saling terhubung. Ide berpindah dari satu kepala ke kepala lain, dipantulkan kembali, lalu berubah bentuk sesuai dengan pengalaman masing-masing manusia.
Namun ide tidak memiliki kemampuan untuk memilih manusia yang akan menjalankannya. Ide juga tidak memiliki wadah untuk mewujudkan dirinya sendiri. Ia hanya kemungkinan yang mengalir di dalam jaringan kesadaran manusia.
Manusialah yang memiliki kuasa untuk menampung, menolak, mengembangkan, atau mengimplementasikan ide tersebut.
Karena itu perbedaan antar manusia bukan pada siapa yang memiliki ide, tetapi pada siapa yang mampu mewujudkan ide tersebut menjadi kenyataan.
Ide dapat berpindah seperti arus listrik yang mengalir dalam jaringan. Tetapi tanpa manusia yang menjadi penghubungnya, arus itu tidak akan pernah menyalakan apa pun.
Pada akhirnya, pikiran mungkin berpindah dari kepala ke kepala. Namun setiap manusia memiliki batas kehidupan, pengalaman, dan kemampuan yang berbeda. Di sanalah sebuah ide menemukan bentuknya—atau justru berhenti sebagai pikiran yang tidak pernah menjadi nyata.